Minggu, 12 Agustus 2012

(FF) This Is Our Story [Prolog]


Title : This Is Our Story
CAST : Yoonjoo (OC), Minhee (OC), Kris (EXO-M), Sehun (EXO-K), Chanyeol (EXO-K)

KRIS-
Aku tersenyum melihat sosok itu. Ia benar-benar menepati janjinya akan menjemputku jika aku pulang nanti. Aku menghampirinya tanpa ragu dan memeluknya penuh kasih sayang. Bisa kurasakan ia membalas pelukanku. “Kukira kau akan lupa kalau aku pulang hari ini.” Ujarku membenamkan wajah di tengkuknya. Aku selalu suka aroma tubuhnya. Strawberry dan vanilla.
“Sebenarnya aku hampir saja lupa, tapi untungnya Minhee mengingatkanku.” Ujarnya seraya melepas pelukan kami.
“Mwo? Jadi kau benar-benar lupa?” tanyaku tak percaya. Kami lalu mulai berjalan meninggalkan bandara menuju ke pintu keluar, dengan aku merangkul bahunya.
“Hampir Kris, hampir. Bukan benar-benar lupa. Dan aku minta maaf soal itu. Kau tahu kan, jadwal kuliahku sangat padat dan belum lagi aku harus mengajar tambahan bagi anak-anak SMP, jadi pikiranku terbagi-bagi.” Aku hanya mengangguk mengerti. Jadwalnya memang yang paling penuh diantara kami.
“Kau kesini naik taksi?” tanyaku padanya saat kami sudah berada di pintu keluar. Ia menggeleng. Aku mengerutkan alis. Jangan bilang ia kesini naik bus?
Seperti bisa membaca pikiranku, ia mengangguk sambil tersenyum tanpa rasa bersalah. “Yah! Kau tahu kan naik bus itu berbahaya? Mengapa kau tidak ke rumahku saja? Toh Pak Kim akan menjemputku disini.” Aku agak emosi. Aish!
“Wae? Toh aku naik bus hampir setiap hari. Dan aku baik-baik saja sampai sekarang.” Aku menghela nafas. Perempuan ini benar-benar mengujiku.
“Cham, ini ada titipan dari Omma. Kesukaanmu.” Ia memberiku sebuah kotak kue. Dari aromanya saja aku sudah tahu kalau di dalam kotak itu terdapat cake coklat kesukaanku.

CHANYEOL-
“Hmm?”
“Dan kau masih tidur jam segini? Ini bahkan sudah siang, bung!” suara di seberang sana mengatakan itu. Aku mau tidak mau bangun juga, dan melihat siapa yang menelponku. Sehun.
“Oh, Sehun-ah, waeyo?” tanyaku sambil membetulkan rambutku.
“Kris pulang hari ini, dan kudengar dari Minhee kalau Yoonjoo sudah menjemputnya di bandara. Aku akan ke rumahnya sekarang. Kau akan menyusul kan, nanti?” aku memikirkan hal itu. Sebenarnya aku ingin menyerahkan tugas ke Professor dan akan makan siang dengan teman kampusku.
“Ne, aku akan menyusul nanti, setelah menyerahkan tugas di kampus. Mungkin aku akan datang saat makan siang.”
Setelah telepon dari Sehun itu aku tidak bisa kembali tidur. Kurasa lebih baik aku bersiap ke kampus. Saat ingin pergi, ponselku berdering. Siapa lagi sekarang?
“Yeobosaeyo?”
“Chanyeol-ah, eodiya?” Minhee.
“Di rumah, aku baru akan ke kampus. Waeyo?” aku mengambil tas dan kunci mobil sebelum menuju garasi. “Jinjja? Kalau begitu, boleh aku menumpang mobil denganmu ke kampus? Pak Lee sedang sakit...”
“Ne, aku akan sampai sekitar sepuluh menit lagi. Bersiaplah.”
“Gomawo, Chanyeol-ah~”

YOONJOO-
“Kau yakin mereka akan menyusul kesini? Sudah lewat jam makan siang dan mereka belum muncul juga.” Aku kembali melihat ke arah jam tanganku. Aku, Kris dan Sehun baru saja makan siang di rumah Kris. Kami berjanji akan berkumpul disini pada saat makan siang dan sampai sekarang baik Chanyeol dan Minhee belum datang dan tidak ada kabar sama sekali.
“Mungkin mereka masih ada urusan di kampus.” Ujar Sehun sambil bermain game di Nitendo DS-nya.
“Mungkin Sehun benar. Kita tunggu saja mereka, sebentar lagi mereka pasti datang.” Ujar Kris menenangkan. Aku mengangguk. Untuk mengisi waktu, kedua lelaki itu bermain Wii dengan memasang tawaran masing-masing. Kali ini jika menang Kris meminta Sehun untuk membelikannya jam tangan baru, sementara untuk Sehun, ia meminta case baru untuk kameranya.
Setelah sampai pada kata sepakat, keduanya mulai bermain Wii. Kali ini game-nya adalah tennis. Aku menggeleng melihat perilaku mereka. Ini baru mereka berdua, jika Chanyeol sudah datang, aku yakin tawaran akan menjadi lebih tinggi dan hampir tidak mungkin. Itulah yang terjadi ketika terakhir kali kami berkumpul disini.
Aku mengirimkan Chanyeol sms dan untungnya ia tidak butuh waktu lama membalas smsku itu. “Untunglah...”
“Eh? Apanya yang untung?” tanya Sehun bingung namun matanya tidak lepas dari layar televisi didepannya. Aku menggeleng. “Chanyeol baru saja membalas pesanku. Sebentar lagi ia akan sampai.”
“Sudah kubilang, mereka pasti akan datang. Kalau sampai mereka tidak datang, mereka mati!” seru Kris sambil bermain menangkis bola tenis dari Sehun di Wii. Aku tahu ia bercanda tentang hal yang terakhir itu.

SEHUN-
“Yeorobun, annyeong~!” seruan itu terdengar hampir ke seluruh rumah. Dan aku tahu betul siapa pemilik suara itu. Minhee.
“Yah, Park sibling, darimana saja kalian berdua? Kau tahu kami menunggu kalian sampai hampir mati karena bosan?” gerutuku sambil menyilangkan tangan di depan dada. Setelah lelah bermain tadi, aku dan Kris bersantai di sofa. Yoonjoo duduk ditengah-tengah kami berdua, membaca salah satu novelnya.
“Kau ini melebihkan, Sehun. Kami hanya terlambat...” Chanyeol lalu melirik jam tangannya. “...beberapa jam saja.” Tuntasnya.
“Mian, kelasku lama keluar. Chanyeol menungguku sampai aku keluar kelas karena Pak Lee sedang sakit. Mianhae, chinguyah!” Minhee meminta maaf.
“Kau ada kuliah? Harusnya kau bilang pada kami, jadi kau bisa tidak datang kesini.” Ujar Yoonjoo. Minhee merebut teh lemonku dan menghabiskannya seketika itu juga. “Mana bisa aku tidak datang? Kris kembali hari ini—“ dan bola matanya membesar. Seperti teringat sesuatu.
“KRIS!!” seru Minhee. Ia meletakkan gelas tehku yang kosong kembali di meja dan menuju ke Kris lalu memeluknya.
“Yah, kau ini! Harusnya kau menyapaku terlebih dulu. Aku kan tuan rumah disini.” Ujar Kris setelah Minhee melepas pelukannya.
“Kau ini, manja sekali Kris. Bagaimana kabarmu, bung?” Chanyeol menghampiri Kris sambil melakukan salam khas persahabatan kami. “Baik, bung. Bagaimana denganmu?”
“Seperti yang kau lihat, beginilah aku.”
“Bagaimana China? Apa ada perubahan?” Minhee kini sudah duduk disalah satu kursi sofa di ruang keluarga ini. Aku lupa kalau Chanyeol dan Minhee adalah yang paling ‘heboh’ diantara kami berlima. Pantas saja sejak tadi sepi sekali.
“China tetap sama, tetap sibuk dan semakin penuh.” Jawab Kris singkat. Ia kembali ke posisi duduknya semula. “Bagaimana dengan perempuan China? Cantik? Manis? Apa ada yang mencuri hatimu?” tanya Chanyeol.
“Yah, kau ini. Pikiranmu hanya tentang perempuan saja.” Gumam Minhee. Kami yang mendengar itu tertawa kecil. “Aah wae? Wajar, kan? Aku ini lelaki. Kau pasti juga berpikiran begitu kan, Sehun?”
“Yah, jangan samakan aku dengan dirimu, ya!”

MINHEE-
Kami sedang asyik mengobrol saat perut Chanyeol berbunyi, seketika itu juga kami berhenti dan tertawa. “Kau belum makan siang?” tanya Yoonjoo setelah kami berhenti tertawa. Chanyeol menggeleng. Kris menyuruh salah satu pelayannya untuk membawakan makanan untuk Chanyeol dan lima belas menit kemudian, lelaki itu sudah kekenyangan.
“Cham, kalian tidak ada acara sabtu ini kan?”
“Waeyo?” tanya Yoonjoo. “Appa memberikanku tiket konser Shinhwa. Kalian ada waktu kan?” ini adalah konser kembalinya Shinhwa setelah sekian lama, dan aku ingin menontonnya bersama dengan sahabat-sahabatku.
“Kau masih suka dengan mereka? Pada Eric itu?” tanya Sehun tidak percaya. Ia masih ingat kalau Shinhwa adalah boyband favoritku. Aku mengangguk dan mulai menjelaskan mengapa aku masih menyukai mereka.
“Tapi mereka sudah om-om.” Komentar Chanyeol. Aku segera memukulnya dengan bantalan sofa. Sayangnya ia dengan cepat bisa menangkisnya.
“Jadi, kalian mau ikut atau tidak?” dan dengan cepat pula mereka mengangguk, membuatku mengela nafas lega. Setidaknya sudah ada dua orang yang menemaniku. “Kurasa kalau begitu aku akan kembali ke China sehari setelah konser itu.” Kris mengkonfirmasi.
“Kau? Bagaimana denganmu, Yoonjoo?” perempuan itu tampak berfikir. “Kau tidak ada jadwal mengajar pada hari itu kan?” tanya Kris. Yoonjoo menggeleng.
“Ayolah Yoonjoo. Kau sudah absen saat kita mengunjungi Kris di China musim lalu. Masa kali ini kau tidak ikut lagi?” Sehun menimpali pertanyaan Kris tadi.
“Yah, aku kan belum bilang apa-apa! Lagipula, uang tabunganku tidak cukup untuk ikut dengan kalian ke China waktu itu.”
“Itu artinya kau ikut menonton om-om itu kan?” Aish, Chanyeol ini. Ingin sekali aku melempar dia dengan sepatuku karena menyebut Shinhwa sebagai ‘om-om’.
“Tadinya aku ingin membantu Yoora menjaga toko, tapi kalau semuanya ikut, baiklah, aku akan ikut.” Jawabnya sambil tersenyum. Asa! Kami berlima akan menonton konser Shinhwa.

Kris, Chanyeol, Yoonjoo, Sehun dan Minhee. Takdir mempertemukan mereka ketika mereka masih duduk di bangku SMP. Perbedaan diantara mereka berlima membuat persahabatan mereka semakin erat. Kelimanya mempunya peran masing-masing dan saling melengkapi. Mereka bisa diibaratkan sebagai sebuah keluarga, dimana Kris sebagai sang ayah, Yoonjoo ibunya, Chanyeol dan Minhee sebagai si kembar, dan Sehun sebagai bayi yang lebih banyak mendengar. Hampir tidak ada rahasia diantara mereka berlima. Berita tentang mereka akan dengan cepat menyebar didalam lingkaran kecil itu. Namun apa persahabatan yang mereka bangun sejak tujuh tahun itu akan berjalan dengan lancar dan tanpa rintangan? Bisakah mereka mengatasinya jika suatu saat rintangan itu muncul?
“Kau ini sahabatku. Tentu saja aku akan melakukan apapun untuk sahabatku.”
“Aku tahu, aku berbeda. Dan kadang, aku merasa kecil diantara kalian.”
“Lingkaran kecil ini sudah nyaman. Kau hanya akan membuatnya rusak jika menambah orang luar didalamnya.”
“Kurasa aku menyukaimu. Aku tidak melampaui batas, kan?”
“Selama ini aku hanya diam dan mengamati. Dan kurasa, kalian semua menyembunyikan sesuatu yang akan membuat persabatan kita hancur.”
 ***

Tidak ada komentar:

Posting Komentar