Title
: This Is Our Story
CAST
: Yoonjoo (OC), Minhee (OC), Kris (EXO-M), Sehun (EXO-K), Chanyeol (EXO-K)
KRIS-
Aku
tersenyum melihat sosok itu. Ia benar-benar menepati janjinya akan menjemputku
jika aku pulang nanti. Aku menghampirinya tanpa ragu dan memeluknya penuh kasih
sayang. Bisa kurasakan ia membalas pelukanku. “Kukira kau akan lupa kalau aku
pulang hari ini.” Ujarku membenamkan wajah di tengkuknya. Aku selalu suka aroma
tubuhnya. Strawberry dan vanilla.
“Sebenarnya
aku hampir saja lupa, tapi untungnya Minhee mengingatkanku.” Ujarnya seraya
melepas pelukan kami.
“Mwo?
Jadi kau benar-benar lupa?” tanyaku tak percaya. Kami lalu mulai berjalan
meninggalkan bandara menuju ke pintu keluar, dengan aku merangkul bahunya.
“Hampir
Kris, hampir. Bukan benar-benar lupa. Dan aku minta maaf soal itu. Kau tahu
kan, jadwal kuliahku sangat padat dan belum lagi aku harus mengajar tambahan
bagi anak-anak SMP, jadi pikiranku terbagi-bagi.” Aku hanya mengangguk
mengerti. Jadwalnya memang yang paling penuh diantara kami.
“Kau
kesini naik taksi?” tanyaku padanya saat kami sudah berada di pintu keluar. Ia
menggeleng. Aku mengerutkan alis. Jangan bilang ia kesini naik bus?
Seperti
bisa membaca pikiranku, ia mengangguk sambil tersenyum tanpa rasa bersalah.
“Yah! Kau tahu kan naik bus itu berbahaya? Mengapa kau tidak ke rumahku saja?
Toh Pak Kim akan menjemputku disini.” Aku agak emosi. Aish!
“Wae?
Toh aku naik bus hampir setiap hari. Dan aku baik-baik saja sampai sekarang.”
Aku menghela nafas. Perempuan ini benar-benar mengujiku.
“Cham,
ini ada titipan dari Omma. Kesukaanmu.” Ia memberiku sebuah kotak kue. Dari
aromanya saja aku sudah tahu kalau di dalam kotak itu terdapat cake coklat
kesukaanku.
CHANYEOL-
“Hmm?”
“Dan
kau masih tidur jam segini? Ini bahkan sudah siang, bung!” suara di seberang
sana mengatakan itu. Aku mau tidak mau bangun juga, dan melihat siapa yang
menelponku. Sehun.
“Oh,
Sehun-ah, waeyo?” tanyaku sambil membetulkan rambutku.
“Kris
pulang hari ini, dan kudengar dari Minhee kalau Yoonjoo sudah menjemputnya di
bandara. Aku akan ke rumahnya sekarang. Kau akan menyusul kan, nanti?” aku
memikirkan hal itu. Sebenarnya aku ingin menyerahkan tugas ke Professor dan
akan makan siang dengan teman kampusku.
“Ne,
aku akan menyusul nanti, setelah menyerahkan tugas di kampus. Mungkin aku akan
datang saat makan siang.”
Setelah
telepon dari Sehun itu aku tidak bisa kembali tidur. Kurasa lebih baik aku
bersiap ke kampus. Saat ingin pergi, ponselku berdering. Siapa lagi sekarang?
“Yeobosaeyo?”
“Chanyeol-ah,
eodiya?” Minhee.
“Di
rumah, aku baru akan ke kampus. Waeyo?” aku mengambil tas dan kunci mobil
sebelum menuju garasi. “Jinjja? Kalau begitu, boleh aku menumpang mobil
denganmu ke kampus? Pak Lee sedang sakit...”
“Ne,
aku akan sampai sekitar sepuluh menit lagi. Bersiaplah.”
“Gomawo,
Chanyeol-ah~”
YOONJOO-
“Kau
yakin mereka akan menyusul kesini? Sudah lewat jam makan siang dan mereka belum
muncul juga.” Aku kembali melihat ke arah jam tanganku. Aku, Kris dan Sehun
baru saja makan siang di rumah Kris. Kami berjanji akan berkumpul disini pada
saat makan siang dan sampai sekarang baik Chanyeol dan Minhee belum datang dan
tidak ada kabar sama sekali.
“Mungkin
mereka masih ada urusan di kampus.” Ujar Sehun sambil bermain game di Nitendo
DS-nya.
“Mungkin
Sehun benar. Kita tunggu saja mereka, sebentar lagi mereka pasti datang.” Ujar
Kris menenangkan. Aku mengangguk. Untuk mengisi waktu, kedua lelaki itu bermain
Wii dengan memasang tawaran masing-masing. Kali ini jika menang Kris meminta
Sehun untuk membelikannya jam tangan baru, sementara untuk Sehun, ia meminta case baru untuk kameranya.
Setelah
sampai pada kata sepakat, keduanya mulai bermain Wii. Kali ini game-nya adalah
tennis. Aku menggeleng melihat perilaku mereka. Ini baru mereka berdua, jika
Chanyeol sudah datang, aku yakin tawaran akan menjadi lebih tinggi dan hampir
tidak mungkin. Itulah yang terjadi ketika terakhir kali kami berkumpul disini.
Aku
mengirimkan Chanyeol sms dan untungnya ia tidak butuh waktu lama membalas smsku
itu. “Untunglah...”
“Eh?
Apanya yang untung?” tanya Sehun bingung namun matanya tidak lepas dari layar
televisi didepannya. Aku menggeleng. “Chanyeol baru saja membalas pesanku.
Sebentar lagi ia akan sampai.”
“Sudah
kubilang, mereka pasti akan datang. Kalau sampai mereka tidak datang, mereka
mati!” seru Kris sambil bermain menangkis bola tenis dari Sehun di Wii. Aku
tahu ia bercanda tentang hal yang terakhir itu.
SEHUN-
“Yeorobun,
annyeong~!” seruan itu terdengar hampir ke seluruh rumah. Dan aku tahu betul
siapa pemilik suara itu. Minhee.
“Yah,
Park sibling, darimana saja kalian berdua? Kau tahu kami menunggu kalian sampai
hampir mati karena bosan?” gerutuku sambil menyilangkan tangan di depan dada.
Setelah lelah bermain tadi, aku dan Kris bersantai di sofa. Yoonjoo duduk
ditengah-tengah kami berdua, membaca salah satu novelnya.
“Kau
ini melebihkan, Sehun. Kami hanya terlambat...” Chanyeol lalu melirik jam
tangannya. “...beberapa jam saja.” Tuntasnya.
“Mian,
kelasku lama keluar. Chanyeol menungguku sampai aku keluar kelas karena Pak Lee
sedang sakit. Mianhae, chinguyah!” Minhee meminta maaf.
“Kau
ada kuliah? Harusnya kau bilang pada kami, jadi kau bisa tidak datang kesini.”
Ujar Yoonjoo. Minhee merebut teh lemonku dan menghabiskannya seketika itu juga.
“Mana bisa aku tidak datang? Kris kembali hari ini—“ dan bola matanya membesar.
Seperti teringat sesuatu.
“KRIS!!”
seru Minhee. Ia meletakkan gelas tehku yang kosong kembali di meja dan menuju
ke Kris lalu memeluknya.
“Yah,
kau ini! Harusnya kau menyapaku terlebih dulu. Aku kan tuan rumah disini.” Ujar
Kris setelah Minhee melepas pelukannya.
“Kau
ini, manja sekali Kris. Bagaimana kabarmu, bung?” Chanyeol menghampiri Kris
sambil melakukan salam khas persahabatan kami. “Baik, bung. Bagaimana
denganmu?”
“Seperti
yang kau lihat, beginilah aku.”
“Bagaimana
China? Apa ada perubahan?” Minhee kini sudah duduk disalah satu kursi sofa di
ruang keluarga ini. Aku lupa kalau Chanyeol dan Minhee adalah yang paling
‘heboh’ diantara kami berlima. Pantas saja sejak tadi sepi sekali.
“China
tetap sama, tetap sibuk dan semakin penuh.” Jawab Kris singkat. Ia kembali ke
posisi duduknya semula. “Bagaimana dengan perempuan China? Cantik? Manis? Apa
ada yang mencuri hatimu?” tanya Chanyeol.
“Yah,
kau ini. Pikiranmu hanya tentang perempuan saja.” Gumam Minhee. Kami yang
mendengar itu tertawa kecil. “Aah wae? Wajar, kan? Aku ini lelaki. Kau pasti
juga berpikiran begitu kan, Sehun?”
“Yah,
jangan samakan aku dengan dirimu, ya!”
MINHEE-
Kami
sedang asyik mengobrol saat perut Chanyeol berbunyi, seketika itu juga kami
berhenti dan tertawa. “Kau belum makan siang?” tanya Yoonjoo setelah kami
berhenti tertawa. Chanyeol menggeleng. Kris menyuruh salah satu pelayannya
untuk membawakan makanan untuk Chanyeol dan lima belas menit kemudian, lelaki
itu sudah kekenyangan.
“Cham,
kalian tidak ada acara sabtu ini kan?”
“Waeyo?”
tanya Yoonjoo. “Appa memberikanku tiket konser Shinhwa. Kalian ada waktu kan?”
ini adalah konser kembalinya Shinhwa setelah sekian lama, dan aku ingin
menontonnya bersama dengan sahabat-sahabatku.
“Kau
masih suka dengan mereka? Pada Eric itu?” tanya Sehun tidak percaya. Ia masih
ingat kalau Shinhwa adalah boyband favoritku. Aku mengangguk dan mulai
menjelaskan mengapa aku masih menyukai mereka.
“Tapi
mereka sudah om-om.” Komentar Chanyeol. Aku segera memukulnya dengan bantalan sofa.
Sayangnya ia dengan cepat bisa menangkisnya.
“Jadi,
kalian mau ikut atau tidak?” dan dengan cepat pula mereka mengangguk, membuatku
mengela nafas lega. Setidaknya sudah ada dua orang yang menemaniku. “Kurasa
kalau begitu aku akan kembali ke China sehari setelah konser itu.” Kris
mengkonfirmasi.
“Kau?
Bagaimana denganmu, Yoonjoo?” perempuan itu tampak berfikir. “Kau tidak ada
jadwal mengajar pada hari itu kan?” tanya Kris. Yoonjoo menggeleng.
“Ayolah
Yoonjoo. Kau sudah absen saat kita mengunjungi Kris di China musim lalu. Masa
kali ini kau tidak ikut lagi?” Sehun menimpali pertanyaan Kris tadi.
“Yah,
aku kan belum bilang apa-apa! Lagipula, uang tabunganku tidak cukup untuk ikut
dengan kalian ke China waktu itu.”
“Itu
artinya kau ikut menonton om-om itu kan?” Aish, Chanyeol ini. Ingin sekali aku
melempar dia dengan sepatuku karena menyebut Shinhwa sebagai ‘om-om’.
“Tadinya
aku ingin membantu Yoora menjaga toko, tapi kalau semuanya ikut, baiklah, aku
akan ikut.” Jawabnya sambil tersenyum. Asa! Kami berlima akan menonton konser
Shinhwa.
Kris,
Chanyeol, Yoonjoo, Sehun dan Minhee. Takdir mempertemukan mereka ketika mereka
masih duduk di bangku SMP. Perbedaan diantara mereka berlima membuat
persahabatan mereka semakin erat. Kelimanya mempunya peran masing-masing dan
saling melengkapi. Mereka bisa diibaratkan sebagai sebuah keluarga, dimana Kris
sebagai sang ayah, Yoonjoo ibunya, Chanyeol dan Minhee sebagai si kembar, dan
Sehun sebagai bayi yang lebih banyak mendengar. Hampir tidak ada rahasia
diantara mereka berlima. Berita tentang mereka akan dengan cepat menyebar
didalam lingkaran kecil itu. Namun apa persahabatan yang mereka bangun sejak
tujuh tahun itu akan berjalan dengan lancar dan tanpa rintangan? Bisakah mereka
mengatasinya jika suatu saat rintangan itu muncul?
“Kau ini sahabatku. Tentu saja aku
akan melakukan apapun untuk sahabatku.”
“Aku tahu, aku berbeda. Dan kadang,
aku merasa kecil diantara kalian.”
“Lingkaran kecil ini sudah nyaman.
Kau hanya akan membuatnya rusak jika menambah orang luar didalamnya.”
“Kurasa aku menyukaimu. Aku tidak
melampaui batas, kan?”
“Selama ini aku hanya diam dan
mengamati. Dan kurasa, kalian semua menyembunyikan sesuatu yang akan membuat
persabatan kita hancur.”
***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar